Latar Belakang


Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) merupakan wahana akademik kaum pendidik indonesia dalam ikut memberikan sumbangan pemikiran bagi pembangunan manusia seutuhnya melalui pendidikan. Konaspi merupakan  kegiatan rutin dari ALPTKNI yang diadakan sekali empat tahun, dimana tahun 2019 merupakan KONASPI IX akan adakan di Universitas Negeri Padang (UNP). Pemilihan UNP sebagai tuan rumah Konaspi IX merupakan hasil musyawarah pimpinan ALPTKNI pada Konaspi XVIII tahun 2016  di Universitas Negeri Jakarta. Konaspi IX di UNP akan mengangkat Tema: Pendidikan pada Era Revolusi Industri 4.0.

 

Tema yang diangkat seiring dengan hasil dan deklarasi pada Konaspi VIII tanggal 15 Oktober 2016 di Jakarta dengan Universitas Negeri Jakarta sebagai tuan rumah. Revolusi Pendidikan Indonesia perlu dilakukan terutama dalam hal standarisasi mutu lembaga pendidikan, sistem rekrutmen mahasiswa, kurikulum dan  sistem pembelajaran, sistem pengangkatan dan pendisribusian guru serta standarisasi pendidikan PAUD dan Dikdasmen dalam mendukung Revolusi Industri 4.0.

 

Revolusi pendidikan yang dilakukan harus selaras dalam mendukung Revolusi Insdustri 4.0.  Revolusi Industri 4.0 menjadi pembahasan hangat dunia saat ini. Revolusi ini akan mempengaruhi arah dan kebijakkan pendidikan dimasa yang akan datang. Untuk memperkuat dan membetengi lulusan LPKT, maka lulusan harus dibekali dengan nilai nilai pancasila dan kebangsaan. Semua lini sedang melakukan persiapan, pengembangan dan peningkatkan peran serta keterlibatan dalam era ini, termasuk dunia pendidikan. Pendidikan harus mulai berbenah dan melakukan persiapan dan pengembangan jika tidak ingin menjadi tamu dan bahkan tertinggal pada era ini. Berbagai terobosan mulai dilakukan, peran dan inovasi pendidikan mulai dikembangkan, terutama Perguruan Tinggi dan secara khusus Lembaga Pendidikan Tinggi Pendidikan (LPTK) sebagai penghasil tenaga pendidik  dan kependidikan.  

 

Pendidikan di LPTK kedepannya tidak hanya menyiapkan peserta didik yang memiliki kognitif yang handal namun juga bagaimana menjadikannya mau menjadi terampil dan mahir dalam mencipta dan berkarya.  LPTK mulai mendesain dan mengembangkan pendidikan dengan multi pendekatan dengan harapan dapat menghasilkan luaran yang semakin tangguh dalam berhadapan dengan tantangan yang semakin menantang. LPTK mulai berbenah dan meluncurkan design dan kurikulum yang sesuai dengan tuntutan stakeholders, dan lebih luas lagi, sehingga lahirlah mata kuliah-mata kuliah penunjang seperti kewirausahaan berbasis teknologi digital dan lain sebagainya.

 

Dalam pengembangan yang lebih luas LPTK semakin berupaya untuk mengembangkan pembelajaran yang tidak hanya tatap muka di ruang kelas namun juga pengoptimalan pemanfaatan teknologi dan sistem informasi. Design dan pengembangan kurikulum juga diarahkan pada aspek ini, pembelajaran daring menjadi salah satu alternatif yang dapat dikembangkan dan dioptimalkan proses implementasinya kedepan secara berkelanjutan dalam upaya mengoptimalkan luaran peserta didik yang handal dan siap menjadi tenaga pendidik dan kependidikan dan/atau mampu berkarya dibidang dan rumpun yang relevan sehingga kedepan dapat memenuhi amanat Millennium Development Goals (MDG’s).

 

Sejak MDG’s pertama kali dicetuskan pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di New York tahun 2000 pemerintah termasuk LPTK mulai mengarahkan pendidikan untuk mendukung pencapaian amanat ini. Selain itu, sejak dicanangkan revolusi mental oleh pemerintah Indonesia, dunia pendidikan termasuk LPTK harus menjadi yang terdepan dalam mewujudkan amanat ini.

 

Ketiga hal ini mulai dari MDGs, revolusi mental dan ditambah dengan masuknya era revolusi Industri 4.0 menjadikan LPTK harus semakin siap, terus berinovasi dan berkontribusi untuk menjadikan lulusannya siap untuk terjun dan berkiprah secara optimal dengan memiliki wawasan, pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap yang berwawasan kebangsaan dalam bingkai budaya yang kreatif dan inovatif.

 

Meskipun capaian yang dikehendaki dan dibebankan pada LPTK begitu ideal, namun demikian masih banyak persoalan yang memerlukan pemikiran dan perbincangan yang intensif dan komprehensif, LPTK perlu melakukan kerjasama yang berkelanjutan, ide-ide brilian dari dosen, peneliti, cendikiawan, profesor serta akademisi diperlukan, sehingga kedepannya pendidikan bisa fokus pada aspek-aspek krusial yang benar-benar menjadi prioritas pengembangan dan pelaksanaan.  Untuk mendukung ketercapaian ini kemeristek telah melaunching program Pendidikan berbasis Riset dan Kerjasama (IdREN). Sebuah program yang dibuat untuk menyelesaikan masalah masalah terkait pendidikan melalui kerjasama riset.

 

Selanjutnya optimalisasi teori dan pelaksaan praktik harus disingkronkan sehingga lulusan yang dihasilkan nantinya dapat menjadi penyelenggara pendidikan yang mengemban amanat menciptakan manusia Indonesia seutuhnya, sehinga kedepannya dapat berperan nyata, bekerja dan berkarya untuk  mewujudkan mutu pendidikan, masyarakat, bangsa  dan negara secara keseluruhan.